Pada dasarnya jiwa kepemimpinan dimilki oleh setiap diri manusia (self leadership), setidaknya dirasakan manakala seseorang melewati suatu proses merencanakan dan menetapkan suatu keputusan guna merealisasikan tujuan hidupnya.
Namun dalam mengaktualisasikan kepemimpinan itu sendiri sering sekali manusia dihadapkan pada berbagai problematika hidup silih berganti.
Tidak sedikit persoalan muncul hanya disebabkan kesalahan dalam bertindak dan keliru mempersepsikan sesuatu, untuk menghindarinya menjadi penting faktor pengendali diri, salah satunya adalah dengan mempedomani nilai-nilai etika dan moralitas dalam kehidupan, jadi kepemimpinan dengan etika dan moralitas merupakan satu kesatuan yang sangat erat.
Visi-misi, tujuan dan program kerja, struktur organisasi, kode etik organisasi, hubungan antarlini organisasi, individu-individu, kepemimpinan, dan dinamika organisasi,adalah unsur-unsur vital di dalam sebuah organisasi.
Keberhasilan organisasi mencapai tujuan organisasi sangat tergantung kepada pemimpin dan orang-orang yang berada di sekitar pemimpin.
Seorang pemimpin yang sukses adalah apabila ia mampu menggerakkan sejumlah orang dalam mencapai tujuan organisasi. Untuk keperluan itu, seorang pemimpin hendaknya dapat menciptakan beberapa hal, yaitu :
1.
Atmosfer hubungan kerja yang nyaman,
2.
Motivasi maksimum,
3.
Kedisiplinan,
4.
Keteladanan,
5.
Berkemampuan (professional)
6.
Aspiratif (people focus)
7.
Berkomimen terhadap etika dan tujuan organisasi (performance)
8.
Berpikir sistemik dan selalu positive thinking
Etika kepemimpinan dalam berorganisasi written by choky monday, 04 may 2009 12:21 oleh karena itu, organisasi bisnis membutuhkan kepemimpinan kolegial yang kuat dan utuh dalam mewujudkan tujuan bersama (common goals). Kepemimpinan organisasi 6 (enam) misi pokok, yakni :
1.
Menjembatani aspirasi member terkait dengan kelancaran proses oprasional,
2. Mengembangkan dan men-servant program minat dan bakat member,
3. Mengembangkan karakter dan kapasitas diri member
4. Menciptakan suasana yang kondusif
5. Kreatif, inovatif, dan produktif
6. Memelihara sarana dan prasarana perusahaan
7. Menjalankan peran serta dalam memecahkan persoalan masyarakat.
Kepemimpinan Leader WECANDO yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu mewujudkan enam misi di atas. Kepemimpinan demikian tentu bukanlah kepemimpinan yang hanya sekedar melayani atau how to servant. Akan tetapi kepemimpinan yang diperlukan adalah kepemimpinan transformatif yang visioner terutama dalam menyikapi perubahan-perubahan yang terus terjadi. Kepemimpinan transformatif yang visioner selalu mengedepankan sejumlah ide atau gagasan konstruktif jauh ke depan. Jadi, perlu ada paradigm shift dalam kepemimpinan yang memfokuskan organisasi bagi peningkatan kualitas pelaku-pelaku organisasi dan individu-individu yang dipimpin.
Pemimpin dalam kepemimpinan transformatif sangat mengetahui dan memahami potensi individu-individu di sekelilingnya dan terampil mengoptimalkan sumber daya organisasi yang tersedia. Bahkan, pemimpin transformatif visioner berpikir jauh ke depan melampaui individu-individu yang dipimpinnya. Oleh karena itu, optimalisasi potensi dan sumber daya organisasi yang dilakukan pemimpin transformatif selalu tepat dan terukur (measurement)keberhasilannya.
Kepemimpinan organisasi bisnis WECANDO membutuhkan pemimpin transformatif yang tidak saja handal dalam mengoptimalkan potensi yang dipimpinnya dan sumber daya organisasi yang tersedia, melainkan juga memiliki jiwa motivator yang baik saat yang lain dalam keadaan lemah. Pemimpin transformatif selalu mempedomani arah kebijakan (policy direction) yang telah ditetapkan organisasi. Dengan demikian ia mampu membawa individu-individu yang dipimpinnya ke tujuan bersama (common goals) yakni :
1.
Keberhasilan belajar dan ushanya dengan baik
2.
Kepercayaan diri dalam memasuki pasar
3.
Kemampuan menganalisis pasar
4.
Karakter diri dan berkepribadian yang kuat serta bermoralitas tinggi
5.
Kebersamaan dalam setiap kegiatan organisasi
Etika Kepemimpinan
Etika adalah perilaku berstandar normatif berupa nilai-nilai moral, norma-norma, dan hal-hal yang baik-baik. Etika difungsikan sebagai penuntun dalam bersikap dan bertindak menjalankan kehidupan menuju ke tingkat keadaan yang lebih baik. Pada dasarnya arti hakiki etika adalah determinasi pedoman untuk menjalankan apa-apa yang benar dan tidak melakukan apa-apa yang tidak benar. Dengan demikian menjalankan suatu kehidupan yang beretika diyakini akan membawa kehidupan pada suatu kondisi yang tidak menimbulkan efek negatif yang merugikan bagi kehidupan di sekitarnya.
Ditinjau dari segi evolusi, dimensi etika dapat menjadi faktor kunci keberhasilan suatu kepemimpinan. Dalam suatu organisasi, kepemimpinan yang dinilai baik apabila fungsi-fungsi kepemimpinan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip beretika. Kepemimpinan beretika akan membuat suasana hubungan kerja dalam organisasi lebih nyaman dan terhindar dari konflik vertikal maupun konflik horisontal. Sebab, pelaku-pelaku organisasi menyadari keberadaan pedoman dan penuntun berupa prinsip-prinsip etika yang membatasi gerak bersikap dan bertindak.
Adapun prinsip-prinsip etika berorganisasi adalah :
1. Menjaga perasaan orang lain
2. Memecahkan masalah dengan rendah hati
3. Menghindari pemaksaan kehendak tetapi menghargai pendapat orang lain
4. Mengutamakan proses dialogis dalam memecahkan masalah
5. Menanggapi suatu masalah dengan cepat
6. Dan sesuai dengan keahlian (competence)
7. Menyadari kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki (improving value)
8. Mengedepankan sikap jujur, disiplin, dan dapat dipercaya.
Upaya menerapkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinan bukanlah suatu hal yang mudah. Untuk kebutuhan itu diperlukan suatu kesamaan persepsi untuk apa organisasi dijalankan. Dalam arti diperlukan suatu komitmen para pelaku organisasi menyamakan langkah tindak untuk mewujudkan tujuan organisasi. Satu hal lain yang juga penting adalah pemberlakuan sanksi yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi proses pembelajaran atas kesalahan yang diperbuat pelaku organisasi. Sanksi dapat diberlakukan tanpa harus adanya diskriminasi. Oleh karena itu setiap organisasi hendaknya mempunyai ´kode etik organisasi´ yang berfungsi sebagai alat pengendalian atau pengawasan organisasi. Kode etik organisasi dan perencanaan strategis (renstra) organisasi dapat dijadikan sebagai pedoman oleh majelis pertimbangan organisasi mengawasi jalannya roda organisasi.
Kode etik organisasi disusun berdasarkan pertimbangan beberapa faktor :
1. Peraturan dan ketentuan yang disepakati
2. Sinergitas
4. Competition is matter of spirit
5. Not strength
6. Tanggung jawab atau integritas
7. Hubungan kerja
8. Aspirasi.
Penutup
Etika kepemimpinan dalam menjalankan kegiatan organisasi merupakan dimensi yang tidak terpisahkan dari kehidupan organisasi keseharian. Tanpa adanya etika kepemimpinan yang efektif dapat mengakibatkan keseimbangan organisasi terganggu. Etika kepemimpinan yang diterapkan oleh pengurus organisasi dalam menjalankan roda organisasi dapat menebarkan nilai tambah (value added) bagi peningkatan karakter diri terutama dalam kekokohan mental dan spiritual.